Tukang Cerita

Kepercayaan Itu Proses Bukan Warisan

Saya pengen cerita ketika anak saya masih SD dan tiba-tiba ada kewajiban mengisi buku Sekolah Minggu. WAJIB. Cukup bingung menyikapinya. Begini ceritanya...

Pengen Cerita

Tukang Cerita

Kepercayaan Itu Proses Bukan Warisan

Saya pengen cerita ketika anak saya masih SD dan tiba-tiba ada kewajiban mengisi buku Sekolah Minggu. WAJIB. Cukup bingung menyikapinya. Begini ceritanya...

Memiliki kepercayaan atau keyakinan yang berbeda, sering menimbulkan hal-hal yang kurang menyenangkan. Hal-hal tersebut bisa berupa ucapan maupun tindakan.

Anak saya lahir dan tumbuh besar di Ambon, bersama Nenek dan Kakeknya. Baru setelah kami, saya dan istri, balik ke Jogja, setelah 4 tahun di Papua, dia tinggal bersama kami.

Anak kami pun harus pindah sekolah. Ketika di Ambon, dia sekolah di SD Kristen Kalam Kudus (SD KKK). Sampai di Jogja, kami pun mendaftarkan dia ke SD KKK Jogja. Mikirnya sih karena dari Yayasan yang sama, nggak akan susah untuk proses kepindahannya. Ternyata….

Tidak mudah sama sekali. Tanpa mengurangi rasa hormat, standar mutu pendidikannya beda. Untuk bisa diterima sekolah di SD KKK Jogja, anak saya harus mengikuti tes mata pelajaran.

Saya sedang tidak menceritakan proses tes anak saya. Mungkin lain waktu. Kali ini kita lewati dulu.

Singkat cerita anak saya diterima sekolah di SD KKK, kelas 5. Setelah menjalani kelas 5 tanpa hambatan berarti, tiba-tiba di awal kelas 6 ada perubahan kebijakan dari pihak sekolah.

Sebelum melanjutkan, saya ingin menyampaikan respect saya ke Sekolah dan Yayasan Kalam Kudus. Saya hanya menceritakan pengalaman saya saja, tanpa bermaksud tidak baik kepada pihak manapun.

Pihak SD KKK mengeluarkan kebijakan setiap murid harus mengisikan ringkasan pelajaran sekolah minggu atau sejenisnya untuk agama selain Kristen, dan ditandatangani oleh guru atau pihak yang bertanggung jawab.

Untuk yang tidak mengerti, sekolah minggu adalah ibadah umat Kristen di hari minggu yang dikhususkan untuk anak-anak. Biasanya diisi dengan bernyanyi dan mendengarkan kisah yang ada di Alkitab.

Tugas ini mirip dengan mengisi buku Tarawih untuk murid beragama Islam ketika bulan Ramadhan. Mereka diminta untuk menyimak khotbah dan meringkasnya. Kemudian meminta tanda tangan.

Nah disini masalahnya. Saya berprinsip tidak akan memaksa anak saya atau siapapun untuk meyakini atau tidak meyakini sesuatu. Kepercayaan, keyakinan atau mengimani agama adalah proses bukan warisan, apalagi pemaksaan. Tidak boleh sama sekali.

Sebenarnya masalah ini bisa diselesaikan dengan mudah. Tinggal mengisi ringkasan, terus diparaf. Selesai. Mudah dan tidak menimbulkan masalah. Pihak sekolah pun tidak akan memaksakan agama. Tinggal menyesuaikan saja dengan keyakinan sang anak atau keluarganya.

Tapi jika hal ini saya lakukan, berarti saya mengajari berbohong kepada anak saya dan itu akan melekat sampai dia dewasa. Lebih berbahaya lagi, karena mengajarkan juga mengakali peraturan. Nggak bisa.

Akhirnya saya memutuskan untuk menghadap Kepala Sekolah SD KKK. Waktu itu yang menjabat adalah Ibu Lily. Maaf saya lupa nama lengkapnya.

Kami berdiskusi panjang lebar mengenai peraturan baru ini. Ibu Kepala Sekolah sempat menyarankan saya untuk mengikuti aliran kepercayaan jika tidak mempercayai agama yang ada. Saya menyampaikan bahwa ini bukan masalah kepercayaan atau agama, tapi masalah tujuan pendidikan yang ingin saya tanamkan kepada anak saya.

Ibu Lily mau memahami maksud dan tujuan saya. Mungkin beliau tau apa yang menjadi target saya untuk mendidik anak saya. Beliau mengijinkan anak saya untuk tidak mengisi buku tersebut.

Salut untuk Ibu Lily. Beliau paham kecintaan dan kepedulian saya terhadap anak saya. Tidak hanya soal mendidik, tapi menanamkan pemahaman yang akan menjadi bekal dia di masa depan. Terima kasih Bu Lily.

Saya tidak sedang mengajari melanggar peraturan atau berkompromi dengan pelaksana aturan, tapi tentang menanamkan kerangka berpikir. Dan hebatnya untuk SD Kristen Kalam Kudus, mereka memahami esensi pendidikan. Sekali lagi…. SALUT.

Cerita Lainnya

Tukang Cerita

Ketika Anak Pacaran

Apa sih rasanya ketika seorang bapak menghadapi situasi dimana anak perempuannya beranjak dewasa dan mulai pacaran? Saya pengen cerita apa yang saya rasakan....

Tukang Cerita

Hari Panjang Yosua, Beneran Ada?

Kali ini saya pengen cerita tentang Hari Panjang Yosua. Penasaran aja, karena ada beberapa hal yang cukup menarik untuk dikulik lebih dalam. Ceritanya begini...