Tukang Cerita

Ketika Anak Pacaran

Apa sih rasanya ketika seorang bapak menghadapi situasi dimana anak perempuannya beranjak dewasa dan mulai pacaran? Saya pengen cerita apa yang saya rasakan....

Pengen Cerita

Tukang Cerita

Ketika Anak Pacaran

Apa sih rasanya ketika seorang bapak menghadapi situasi dimana anak perempuannya beranjak dewasa dan mulai pacaran? Saya pengen cerita apa yang saya rasakan....

Dulu saya berpikir, pasti akan kagok sekali ketika anak mulai berpacaran. Kapan itu akan terjadi? Bagaimana menyikapinya? Bagaimana harus bersikap? Bingunglah pokoknya. Apakah saya lebih baik berharap anak saya tidak pacaran demi bisa terhindar dari rasa tidak nyaman itu? Masak harus gitu sih.

Salah satu hal yang sulit saya obrolkan dengan anak adalah soal pacaran. Saya bingung harus membahas apa, karena saya cupu untuk soal ini. Ada yang mau sama saya aja untung-untungan.

Saat hormon remaja mulai aktif ketika SMP, teman-teman saya mulai banyak yang berpacaran. Saya gak tertarik. Buat apa sih pacaran. Apalagi saya agak sulit ngobrol sama orang.

Ketika anak saya tumbuh remaja, saya bingung untuk ngobrol tentang pacaran. Di satu sisi, saya tidak ingin fokus anak saya terpecah ketika berpacaran. Tapi di sisi yang lain, saya sadar proses alami hormon tubuh remaja.

Ada orang yang bilang, gak papa pacaran, biar lebih semangat sekolah. Lah… motivasi sekolah kok pacaran. Terus kalo putus pacaran, putus sekolah juga? Gak masuk ke otak saya pemikiran gitu.

Terus apakah anak saya pacaran ketika remaja? Jujur saya gak tau. Dia gak pernah cerita ke saya, gak tau kalo ke mamanya. Saya pun males mau tanya. Takut tidak bisa bereaksi dengan baik atas jawabannya. Mungkin bukan keputusan yang baik, tapi saya memilih tidak bertanya.

Saya masih ingat, topik pacaran pernah kami bahas ketika dia pulang sekolah. Dalam perjalanan pulang ketika saya menjemput dia pulang, kami sering ngobrol banyak hal. Salah satu topik yang kami bahas adalah pacaran.

Hal yang saya sampaikan saat itu adalah kalo kamu mau mendapatkan pasangan yang berkualitas, kamu harus meningkatkan kualitasmu dulu. Baik itu dalam hal pendidikan, maupun hal lainnya. Semakin baik kualitasmu, stok laki-laki yang bisa kamu pilih juga akan semakin berkualitas.

Kalo kamu pacaran sekarang, saat itu dia SMU, pilihan laki-laki yang ada paling mentok mahasiwa. Duit aja masih minta orang tua, yang ada cuma sok iye aja. Tapi kalo kamu meneruskan pendidikanmu sampe S3, kualitas laki-laki yang mendekatimu akan terseleksi otomatis. Mungkin bukan S3, tapi setidaknya dia punya nyali dan mampu mengatasi keminderannya.

Tapi mau tidak mau, suka tidak suka, anak saya beranjak dewasa. Dia kuliah dan akhirnya moment itu tiba, pacaran. Ketika dia mengatakan itu, perasaan campur aduk. Senang dia mau secara terbuka mengatakan itu. Tapi ada rasa takut, apakah saya akan segera “kehilangan” dia?

Moment saya bertemu pacar anak saya adalah ketika anak saya wisuda. Beberapa hari sebelum saya berangkat, overthinking menyerang. Besok kalo ketemu mau ngobrolin apa ya? Saya harus bersikap seperti apa? Blas, gak tau sama sekali. Gak ada pengalaman.

Apakah saya harus sok bijaksana, demi menjaga wibawa sebagai orang tua? Atau bersikap santai dan sok asik, biar dianggap orang tua gaul? Emboh… Mumet….

Tapi sebenarnya saya ingin bilang ke dia, “aku membesarkan anakku sebagai seorang individu, yang memiliki ego sendiri, keinginan sendiri dan berhak atas hidupnya. Aku harap kamu bisa memperlakukan dia seperti itu”.

“Dia adalah temanku, sering aku kerjain, sering aku bully. Tapi dia juga teman ceritaku, teman ngobrolku. Aku harap kamu bisa menggunakan kata-kata yang tepat untuk dia. Gak harus seperti Chairil Anwar, tapi jangan sampai seperti Eminem”.

Sayangnya kalimat-kalimat itu gak pernah tersampaikan. Entah kenapa. Momentnya kurang pas aja.

Tapi yang pasti, saya yakin anak saya tau pria seperti apa yang dia inginkan sebagai pasangan. Saya yakin dia tau hubungan seperti apa yang ingin dia jalani. Satu hal yang pasti, jangan pernah tanya pendapat saya tentang pacarnya, karena jawabannya sudah pasti : MUNYUK

Cerita Lainnya

Tukang Cerita

Kepercayaan Itu Proses Bukan Warisan

Saya pengen cerita ketika anak saya masih SD dan tiba-tiba ada kewajiban mengisi buku Sekolah Minggu. WAJIB. Cukup bingung menyikapinya. Begini ceritanya...

Tukang Cerita

Hari Panjang Yosua, Beneran Ada?

Kali ini saya pengen cerita tentang Hari Panjang Yosua. Penasaran aja, karena ada beberapa hal yang cukup menarik untuk dikulik lebih dalam. Ceritanya begini...