
Tukang Cerita
Hari Panjang Yosua, Beneran Ada?
Kali ini saya pengen cerita tentang Hari Panjang Yosua. Penasaran aja, karena ada beberapa hal yang cukup menarik untuk dikulik lebih dalam. Ceritanya begini...


Tukang Cerita
Hari Panjang Yosua, Beneran Ada?
Kali ini saya pengen cerita tentang Hari Panjang Yosua. Penasaran aja, karena ada beberapa hal yang cukup menarik untuk dikulik lebih dalam. Ceritanya begini...
Yosua adalah tokoh (dibilang Nabi juga boleh deh) Yahudi, yang berasal dari suku Efraim. Dia ditunjuk sebagai penerus Musa (diganti oleh Harun dulu, baru Yosua) untuk memimpin perjalanan bangsa Yahudi menuju Tanah Kanaan. Artinya, Yosua berbeda generasi dengan Musa. Kakeknya Yosua, namanya Elisama, yang hidup sezaman dengan Musa.
Yousa lahir dengan nama Hosea. Kemudian Musa mengganti namanya menjadi Yosua. Kenapa namanya diganti? Gak tau juga alasannya apa. Gak dijelaskan alasannya. Mungkin karena dia sering sakit-sakitan. Banyakkan yang ganti nama biar gak sakit terus. Kaya’ Kusno jadi Soekarno, Mulyono jadi Mulyadi. Banyaklah pokoknya.
“Yosua” dalam Bahasa Indonesia adalah hasil serapan dari Bahasa Belanda “Jozua”. Sedangkan dalam bahasa Ibrani, namanya “Yehosyua”, yang artinya “keselamatan” atau “juru selamat”. Lhoo…. Wait…. Bukannya “juru selamat” itu “Yesus”? Benar sekali. “Yesus” adalah salah satu varian dari “Yehosyua”. Sedangkan dalam Bahasa Arab, namanya menjadi “Yusya”.
Oke. Kenalan singkatnya cukup sampai segitu dulu aja. Saya ingin kembali merenungi hari panjangnya Yosua.
Apa itu hari panjang Yosua?
Hari panjang Yosua adalah peristiwa dimana matahari dan bulan disuruh berhenti. Jadi siang menjadi lebih panjang. Badhalah…. Kok bisa? Gimana caranya? Ini yang muncul dikepala saya dan membuat saya merenung di hari minggu dan mengulik lebih jauh. Penasaran aja, pengen tau bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Pengen tau apakah cerita ini memang benar bisa kejadian.
Yosua sebagai pengganti Musa memimpin Bangsa Yahudi merebut Tanah Kanaan, pastilah harus menjalankan tugas itu. Singkat cerita, Yosua dan Bangsa Yahudi sampai di wilayah bernama Gibeon. Mereka tinggal di sana setelah berhasil mengikat persahabatan dengan penduduk kota Gibeon.
Raja Yerusalem mengajak 4 orang sekutunya, yaitu raja Hebron, raja Yarmut, raja Lakhis dan raja Eglon, untuk bersama-sama menggempur Gibeon. Alasannya apa? Karena orang-orang Gibeon telah bersahabat dengan Yosua dan Israel. Mmm… terdengar familiar. Kaya’ main boikot-boikotanlah. Gak sama persis, tapi mirip. Sejarah memang akan berulang.
Diserbulah Gibeon oleh mereka ini. Karena dikeroyok rame-rame (ya iyalah, namanya juga dikeroyok, pasti rame-rame), orang-orang Gibeon minta bantuan ke Yosua. Berangkat dong Yosua dan Israel Gank-nya. Hasilnya? Ya pasti menanglah. Yosua dibantu sama Tuhan. Saya males nyeritain perangnya. Aneh. Lah kok aneh? Dimana anehnya?
Jadi gini…. Ketika Yosua dan gank-nya sudah berhadap-hadapan dengan orang Amori, btw rombongan lima raja tadi disebutnya orang Amori, Tuhan mengacaukan orang-orang Amori itu. Lari tunggang langgang mereka. Kalah dari pasukan Yosua + Tuhan. Selesai? Nggak… mereka masih ditimpukin pake batu-batu besar dari langit sampe mati. Ngapain coba? Gabut banget. Tinggal cabut nyawanya aja kan beres. Gak usah capek-capek. Embohlah…. Pokoknya ceritanya gitu.
Nah… abis ini asiknya. Setelah orang-orang Amori kalah, Yosua ngomong gini: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon”.
Eh… kagak salah Bang?
Di pelajaran sekolah ada tuh dikasih tau, yang bergerak itu bumi mengelilingi matahari. Kenapa matahari yang disuruh berenti? Kalo bulan mah ngikut aja sama bumi. Lagian emangnya matahari sama bulan bisa denger?
Ternyata, matahari berhenti di tengah langit. Gimana caranya? Itulah yang membuat saya merenung dan mencoba mencari jawabannya.
Yang menyebabkan matahari “bergerak” adalah karena bumi berotasi pada porosnya dengan kecepatan sekitar 1.670 km/jam. Hal ini menyebabkan adanya siang dan malam, karena matahari terbit dan tenggelam.
Jadi gini ya Bang… satu–satunya cara agar matahari “berhenti”, bumi harus berhenti berotasi. Untungnya bumi masih berputar. Tanya Bernadya deh kalo gak percaya.
Kalo memang bumi berhenti atau melambat kecepatan rotasinya, dampak yang ditimbulkan gak main-main Bang. Percaya deh. Kalo itu sampe terjadi, Bang Yo sama temen-temen udah almarhum juga. Nggak percaya? Tak kasih tau ya. Saya juga dikasih tau AI sih.
Jadi gini Bang. Bumi kan berputar dengan kecepatan 1.670 km/jam dari arah barat ke timur. Kalo sampe dia berhenti muter atau melambat, semua yang ada dipermukaan bumi, akan terlempar ke arah timur dengan kecepatan kurang lebih 1.670 km/jam, tergantung berhenti apa melambat.
Selain itu ya Bang, rotasi bumi juga menghasilkan medan magnet yang melindungi bumi dari radiasi matahari. Kalo sampe gak ada medan magnet, ampun dah…. Gak kebayang Bang kaya’ gimana jadinya.
Belum lagi arus laut Bang, Air laut akan ngumpul semua di daerah kutub. Kutub bakal tenggelam. Kasihan tau Bang, beruang kutub. Mau lari kemana coba. Belum lagi rumahnya Superman. Pasti ancur tuh.
Dan kalo memang itu yang terjadi Bang, Bang Yo sama temen-temen bakalan koit semua. Ya… orang-orang gak bakalan harus repot-repot boikot sana sini sih. Susah tau milih mana yang mau diboikot mana yang nggak. Google masih butuh, Facebook juga. Apalagi Instagram. Nanti pamer kalo sudah boikot Starbucks dimana coba. Kan jadi susah pamernya.
Tapi kan….. Tuhan bisa membuat mujizat apapun? Pasti Dia sudah mengatur semuanya donk, biar aman. Ya…. kalo itu sih suka-suka lu ajalah. Males nanggepin-nya. Saya mau lanjut merenungi yang lain aja. Nanti tak ceritain Bang. Daaa….
Cerita Lainnya
Apa sih rasanya ketika seorang bapak menghadapi situasi dimana anak perempuannya beranjak dewasa dan mulai pacaran? Saya pengen cerita apa yang saya rasakan....
Kepercayaan Itu Proses Bukan Warisan
Saya pengen cerita ketika anak saya masih SD dan tiba-tiba ada kewajiban mengisi buku Sekolah Minggu. WAJIB. Cukup bingung menyikapinya. Begini ceritanya...